banner

Sejarah Dan Keunikan Gereja Katedral Pontianak Menjadikannya Gereja Terbesar Di Asia Tenggara melalui Perpaduan Desain Romawi Dan Timur Tengah Bernuansa Ornamen Dayak : Awal Misi Kemanusian Di Kalimantan Barat

Rabu, 22 November 2023 11:47 WIB | Oleh: Admin | Dilihat: 21

WhatsApp Image 2023-11-22 at 11.39.19_8d828297

Gereja katedral Pontianak merupakan salah satu gereja tertua di Kalimantan Barat dan gereja terbesar di Asia Tenggara tepat berada di kota Pontianak. Gereja ini sebelumnya hanyalah stasi kemudian berpindah menjadi gereja induk karena letaknya yang strategis. Dengan letak strategis ini kemudian berkembang menjadi karya pastoral yang mengelola berbagai bidang proyek sosial, amal, sekolah, dan rumah sakit.

Gereja Katedral Pontianak di pelopori oleh ordo Kapusin sekitar tahun 1900an. Walaupun sebelumnya beberapa missionaris sudah tiba sekitar tahun 1600an. Namun seiring waktu ordo Kapusin dengan restu dan berkat dari Vatikan mereka mampu berkembang membawa misi kemanusiaan di Kalimantan Barat hingga saat ini.

Sejarah misi kemanusiaan di Kalimantan Barat dimulai Pada tahun 1862, Pater van der Grinten berkeliling mengunjungi orang-orang Dayak di pedalaman untuk menyelidiki kemungkinan upaya misi di Kalimantan Barat. Namun, karena kurangnya imam dan situasi politik di Kalimantan Barat yang diwarnai dengan perselisihan antara kongsi (komunitas demokratis di kalangan orang Cina), pemerintah Belanda, dan penguasa lokal (kesultanan), pekerjaan misi agak terhambat pada waktu itu ( katedralsantoyosefpontianak, 2022 ).

Pada tanggal 7 Mei hingga 12 Juli 1874, Pater de Vries, SJ dan Pater Staal, SJ, misionaris dari Batavia (Jakarta) mengunjungi Pontianak, Sintang, Bengkayang, Sambas, Pemangkat, Singkawang & Montrado dan mengangkat seorang katekis Tionghoa (Sinsang) yang ditugaskan untuk mengajarkan agama Katolik kepada masyarakat setempat. Pada tahun 1855, Singkawang ditetapkan sebagai Stasi dengan cakupan wilayah Kalimantan Barat termasuk Belitung. Pater W.J. Staal, SJ yang ditunjuk sebagai pastor pertama di Singkawang (kemudian diangkat menjadi Vikaris Apostolik Jakarta) mulai melayani umat dengan jumlah awal ± 200 Tionghoa Katolik yang berasal dari Pulau Bangka ( katedralsantoyosefpontianak, 2022 ).

Pater Staal menetapkan desa Sebalau yang termasuk dalam wilayah stasi Singkawang sebagai basis utama pelayanan misi dan kemudian dilanjutkan ke pedalaman Sambas, Bengkayang dan sekitarnya. Daerah-daerah lain seperti daerah sepanjang sungai Kapuas hingga Semitau, pemukiman suku Dayak Rambai, Sebruwang dan Kantuk juga mendapat kunjungan dalam rangka pelayanan misi. Namun, karena perjalanan yang sulit (jarak yang jauh dan transportasi air), kondisi lain yang memperburuk dan keterbatasan imam, misi kemanusiaan terhadap suku Dayak di pedalaman ditunda hingga tahun 1888-1889.

Pada tanggal 10 April 1905. Pastor Pacificus Bos, OFMCap diangkat menjadi Prefek Apostolik Kalimantan Barat, kemudian 26 Mei 1905, Pastor Pacificus Bos, OFMCap sebagai Prefek Apostolik Kalimantan diterima oleh Bapa Suci Paus Pius X dalam sebuah audiensi di Roma dan ia menerima berkat khusus dari Bapa Suci. Tanggal 28 April 1905, diutus beberapa missionaris untuk menjalankan misi kemanusiaan di Kalimantan Barat, yaitu ;

  1. Pastor Pacificus Bos, OFMCap
  2. Pastor Eugenius van Disseldrop, OFMCap
  3. Pastor Beatus Baijens, OFMCap
  4. Pastor Camillus Buil, OFMCap
  5. Frater Wilhelmus Verhulst, OFMCap
  6. Frater Theodoricus van Lanen, OFMCap

Pada tanggal 30 November 1905, sekitar pukul 15.00, mereka tiba di muara sungai Singkawang. Keesokan harinya misa kudus dipersembahkan oleh para misionaris yang baru tiba di Singkawang. Selama pewartaan Kabar Gembira di Singkawang, para misionaris ditemani oleh seorang katekis bernama Tshang A Kang yang telah melayani umat Katolik selama 10 tahun. Dua tahun setelah kehadiran mereka di Singkawang, stasi-stasi baru mulai didirikan, termasuk di Pemangkat dan Pelanjau, dan gereja-gereja kecil mulai dibangun di berbagai tempat. Para misionaris secara teratur mengunjungi gereja-gereja ini untuk mengadakan misa dan mengajar ( katedralsantoyosefpontianak, 2022 ).

Maka melalui berkat misi kemanusian para missionaris di Kalimantan Barat  perkembangan beberapa umat hingga awal tahun 1908 Pendirian gereja pertama sebagai pusat paroki dimulai oleh Prefek Apostolik Borneo Belanda, Mgr. Pacificus Bos, OFMCap. Kemudian gereja diberkati pada tanggal 9 Desember 1909, sekaligus sebagai peresmian berdirinya paroki. Gereja ini menjadi gereja katedral sejak 17 November 1918 bersamaan dengan ditahbiskannya Mgr. Jan Pacificus Bos, OFMCap sebagai Uskup Tituler Capitolias, merangkap Vikaris Apostolik Borneo Belanda, dan paroki ini berubah menjadi Paroki Katedral Pontianak.

Seiring dengan perkembangan jemaat dan kondisi fisik bangunan gereja yang sudah tidak layak lagi, maka pada tahun 2011, bangunan tersebut dirubuhkan dan dibangun kembali berkapasitas 3.000 orang. Gereja Santo Yoseph yang baru dibangun dengan perpaduan arsitektur Romawi dan Timur Tengah. Ornamen-ornamen Dayak mendominasi eksterior bangunan, dan interiornya didominasi oleh nuansa Tionghoa yang dipadukan dengan gaya klasik Eropa; sedangkan arsitek yang mendesain eksterior gereja ini ialah Ricky, seorang arsitek Masjid Raya Singkawang. Dengan inspirasi dan pola kreatif Ricky memperkuat kesan Kalimantan Barat yang multi etnis di mana orang-orang dari berbagai agama hidup berdampingan dan saling mengasihi ( KatedralSantoYosef, 2015 ).

 

Hingga pada hari Sabtu 20 Desember 2014, pukul 18.00, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus memimpin perarakan umat dari Gedung Pacifikus menuju Gereja Katedral Santo Yosep, menandai misa pertama kali diadakan setelah empat tahun direnovasi total. Katedral Santo Yosep direnovasi total pada tahun 2011. Renovasi gereja berkapasitas 3.000 orang – yang sebelumnya direstorasi untuk menampung hanya 1.100 orang – menelan biaya Rp 74 miliar, Rp 20 miliar di antaranya disumbangkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Gereja yang didirikan pada tahun 1909 ini telah menjadi ikon lebih dari satu abad perjalanan umat Katolik di Kalimantan Barat. Para misionaris Yesuit dari Vikariat Apostolik Batavia dikirim ke Pemangkat, Kabupaten Sambas, 1865, dan ke Sejiram, Kabupaten Kapuas Hulu, 1890. Pada tahun 1901 Paroki Pontianak didirikan dan pada tanggal 11 Februari 1905 Vatikan mendirikan Prefektur Apostolik Pontianak di bawah pelayanan Ordo Fratrum Minorum Capucinorum (OFM Cap). Dari Pontianak, Gereja Katolik melebarkan sayapnya ke Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara dan Kalimantan Tengah.

Misi kemanusian yang telah dilakukan para missionaris ini perlu diteladani setiap pribadi manusia, bukan hanya untuk kebaikan atau peningkatan mutu kemanusiaan namun juga membangun karakter setiap manusia yang kokoh dan punya pendirian. Karakter dan pendirian ini menjadi sebuah pondasi kuat dalam mempertahankan tradisi suci di setiap lokasi dan menyebarkan perdamaian dalam keberagaman. Setelah lebih dari seratus tahun dapat terlihat dengan jelas bahwa para penduduk Kalimantan Barat mengalami kemajuan baik dari aspek sumber daya manusia maupun aspek lainnya.

Selain dari pada itu, dampak misi kemanusiaan membuat sebuah tempat tidak terisolir dari perkembangan jaman. Perkembangan jaman yang begitu cepat menjadikan manusia harus ikut tren tanpa harus menghilangkan identitas atau tradisi suci. Setiap suku atau budaya memiliki tradisi suci yang wajib dipelihara dengan konsep yang baik dan benar.

 

Penulis : Pernandus Simanullang, S.S, M.Sn, FM

simanullangpernandus@gmail.com

 

Referensi,

https://katedralsantoyosefpontianak.com/sejarah/

https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Katedral_Pontianak#Referensi

 “Gereja Katedral St. Joseph”. Foursquare. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-04-29. Diakses tanggal 2015-02-10

“Bishop Jan Pacificus Bos, O.F.M. Cap.” Catholic-Hierarchy. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-04-24. Diakses tanggal 2015-02-10.

 “Santo Josep, Katedral “Terbesar” di Asia Tenggara”. Sinar Harapan Online. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-10. Diakses tanggal 2015-02-10.

 

Array

Rekomendasi

Berita Terbaru

Rumahku Istanaku Dirusak Dan Diserang Dan Diancam Oleh Segerombolan Orang Bang

Beritawanklik.com – Medan, 01 Februari 2024 – Dedi Tarigan (37), Pelapor yang rumahnya dirusak dan…

,

Pemuda Pemudi Kristiani Yang Ada Di Wilayah Serang Raya Dan Cilegon Akan Mengadakan Acara Silaturahmi Yang Didahului Ibadah Syukur Awal Tahun Baru 2024

Beritawanklik.com – Pemuda Pemudi Kristiani  yang ada di wilayah Serang Raya dan Cilegon  akan mengadakan…

,

Mari Kita “Meneladani Budaya Etika Demokrasi Gus Dur,” Ujar Tokoh Pemuda Serang Mordenit Banyuurip

Beritawanklik.com – Komunitas GUSDURian Serang menggelar lomba mewarnai dan menyusun puzzle dalam rangkaian Haul Gusdur…

Jarnas Prabowo SUMUT Siap Berkontribusi Capai kemenangan 60% Untuk Prabowo-Gibran

Medan – Kamis, 14 Des 2023, Ketua Jaringan Nasional (Jarnas) Prabowo Sumut, Agus Permata Ginting…

, , ,

REVOLUSI KASIH : MEMBANGUN MASYARAKAT UNTUK SALING BERBAGI DALAM KEKELUARGAAN

Revolusi kasih melibatkan individu dan komunitas untuk berpikir, bertindak dan berinteraksi satu sama lain atas…